Sabtu, 11 Januari 2014

Pernah ada masa-masa

pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling
menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

pernah ada waktu-waktu dalam
ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit menyuburkan bumi, dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

di satu titik lalu sejenak kita berhenti,
menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan
dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long
menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;
“bungapun layu jika berlebih diberi
rawatan, willow tumbuh subur meski diabaikan”

maka kitapun menjaga jarak dan
mengikuti nasihat ‘ali
“berkunjunglah hanya sekali-sekali,
dengan itu cinta bersemi”
padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan

maka seolah aku telah membiarkan
orang bisu yang merasakan kepahitan
menderita sendiri, getir dalam sunyi
-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-

dan sekarang aku merasa bersalah lagi
seolah hadirku kini cuma untuk menegur
hanya mengajukan keberatan, bahkan
menyalahkan
bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan
-kurasa uluran tanganku yang dulupun
membuat kita hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-

kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;
satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya, terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya “sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..” “antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam “ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah. kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,
tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.” tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah...
 
“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda “lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah “hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’ lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya.. demi Allah akulah memang yang keterlaluan..” lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu mohon sisakan bagian rengkuhannyauntuk kami
pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini..

*Salim A. Fillah

antara Harapan, Impian, dan Cita-cita (Sebuah opini)

well.. sebenernya tiga kata di atas punya banyak kemiripan makna.. tapi, masa' sih semuanya bisa diartikan sama? mari kita bahas sejenak..
sebelumnya, ini merupakan opini pribadi, kalo ada yang ngga setuju silahkan, karena opini masing-masing kita pun berbeda pastinya.

Harapan, nyadar ngga sih kita sering -atau bahkan tiap hari- ngomong "aku berharap bla bla bla agar bla bla bla.." pernah? saya yakin pasti pernah.. karena setiap manusia punya harapannya tersendiri.. dan, kalo diinterpretasikan ke dalam doa, maka harapan merupakan salah satu bentuk dari doa itu sendiri. kita berharap kepada suatu Dzat akan suatu hal, dan kita ingin Dzat tersebut Mewujudkannya.. bukan begitu?

lantas, kepada siapa kita harus menggantungkan harapan itu? well, kita selaku ummat Islam, wajib menggantungkan harapan dan doa kita kepada Dzat yang Maha Esa, Allah swt. bukan kepada yang lain, apalagi kepada sesama hambaNya..:)

Next, Impian. kalian pernah mimpi? atau ada yang belum pernah mimpi? kebayang ngga kalo sampe mimpi itu lebih panjang dari tidurnya? oke lupakan pertanyaan tadi :D

secara kasat mata, impian dan harapan ini memiliki arti yang sama, tapi yakin sama?
menurut saya pribadi, harapan itu muncul setelah kita mengusahakan atau melakukan suatu hal, lantas kita berharap akan hasil dari jerih payah usaha kita tersebut. sedangkan impian, itu hanya bualan, bunga tidur, dan angan-angan belaka, tak lebih dari sekedar mimpi.

pernah denger kata bijak "nothing is impossible" atau semacamnya? oke, bener sih ngga ada yg ngga mungkin, tapi kalo kalimatnya cuma berhenti disitu, jadinya salah kaprah, coba sekarang impikan satu hal yang ngga mungkin menurut kalian, misal kita dari papua bisa nyampe ke jakarta dalam hitungan menit, apakah masih berlaku kata bijak di atas? ngga berlaku. karena suatu hal yang menurut kita ngga mungkin, bisa jadi akan menjadi mungkin hanya kalo kita mengusahakannya, bukan sekedar mimpi belaka :)

dan terakhir, Cita-cita. dulu waktu jaman TK atau SD pasti pernah ditanyain tentang kata ini sama guru kita, kalian jawab apa? ingin jadi polisi? atau jadi dokter? atau jadi guru? atau yang lain?
well, sekarang mari kita tanya diri kita sendiri, yakin sekarang masih sama jawaban dulu sama cita-cita sekarang? semoga istiqomah ya :)

yap, cita-cita ini kalo menurut saya pribadi, merupakan tujuan kita hidup di dunia. kita mau jadi apa di dunia ini? kalo cuma bilang pengen jadi orang baik, semuanya juga pengen, dan setiap profesi punya nilai kebaikan yang berbeda, karena Allah tidak Menciptakan segala hal di dunia ini secara sia-sia. So, lebih spesifik lagi, profesi apa yang ingin kita geluti di dunia ini?

perlu dicatat, tidak semua cita-cita manusia itu akan terwujud, dan tidak ada cita-cita yang terwujud kalo ngga ada usaha untuk mewujudkannya :)

kalo cuma berpegang teguh sama satu cita-cita, ngotot pingin terwujud sesuai keinginan kita, silahkan hidup dalam kurungan idealisme :) ingat, idealisme boleh setinggi langit, tapi kenyataan tetap ada di bumi. harus bisa melihat keadaan dan kenyataan yang ada, kita hidup di dunia sebagai khalifah, harus melihat keadaan di bumi dengan jernih, jangan sampe setan yang jadi 'khalifah' dari nafsu kita, bisa hancur nih bumi sebelum waktunya :)

dan, jangan berharap bahwa cita-cita yang kalian rencanakan akan terwujud 100%, ingat ! rencana Allah jauh lebih indah, lakukan bagianmu, maka Allah akan melakukan bagianNya. usaha dulu, urusan hasil Allah yang ngurus :)

*opini pribadi, ditambah dengan beberapa quote yang pernah saya catat*
Pondok Putri Salafiyah Syafi'iyah Seblak Jombang, 11 Januari 2014

Puisi Random (2)

Tak sadarkah kau wahai anak manusia
bahwa kita itu sempurna ?
Benar tuan kita itu sempurna, semua.

Tapi ada satu alasan ketika
aku memutuskan untuk melihat lagi
cermin didepanku
Cermin ini menampakkan
betapa Yang Maha Kuasa itu indah.

Hai kau anak manusia.
Apakah kau merasa pula?
apakah kau tahu juga?
aaargh...

Saat ini aku tahu bahwa
dari sudut idealismu yg begitu tinggi,
terlontar tutur kata yg bagimu indah,
tapi bagiku itu sungguh jadi ironi.

Kesempurnaan yg kau punya,
kelak akan jadi karma bagimu
Iya, karma itu akan datang padamu,
kau yg memulai, terimalah

dan aku, tak akan lagi menatap nanar matamu
sebagai orang yang akan kuhormati
Semoga kau mengerti.

*ditulis ketika disuruh bikin surat benci buat panitia ospek*

Puisi Random :)))

Sepertinya aku harus membiasakan diri disini sendiri.
Tapi apakah aku memang benar benar sendiri
sementara otakku ini terus saja menggambarkan bayang bayang wujud itu

Tak pernah sadar kapan,
tapi reaksi ini sepertinya wajar
jika saja banyak diantara kaumku melihat sosok itu.
Yah, mungkin itu alasannya. Atau itu cuma epilog drama
yang belum ada monolog yang terangkai dari bibir ya?

Tapi yang pasti,
satu rangkaian kejadian ini berujung pada
 satu ritme tertentu dengan rima dalam kepala
Tiada satu alasan lain ketika hujan itu datang
sementara tanah ini memang membutuhkan air nya...
dan tiada lagi yang bisa kukata
ketika tak ada lagi bayang itu
bayang yang membawa lengkung senyum indah...
dan itu hanyalah kamu...

*ditulis ketika disuruh senior untuk nulis surat cinta buat salah satu panitia ospek*